Tentang Yogyakarta

Dari Alas Mentaok
ke kota istimewa.

Seribu dua ratus tahun lalu candi-candi sudah berdiri di dataran ini. Hari ini ia menjadi kota budaya, kota pelajar, dan satu-satunya daerah di Indonesia yang dipimpin seorang sultan. Inilah perjalanannya — dari Mataram Kuno sampai sekarang.

7 Okt 1756Hari jadi kota
32,5 km²Luas wilayah kota
±373 ribuPenduduk (SP 2020)
Foto utama Kota Yogyakarta

Letak dan bentuk

Sebuah kota di atas sumbu.

Yogyakarta berdiri di dataran landai antara Gunung Merapi di utara dan Samudra Hindia di selatan. Keratonnya diapit dua sungai — Code di timur dan Winongo di barat — dan kota lama disusun mengikuti satu garis lurus utara–selatan: Tugu, Malioboro, Keraton, hingga Panggung Krapyak.

Garis itu bukan kebetulan. Bagi pendirinya, sumbu tersebut melambangkan perjalanan hidup manusia dari lahir sampai kembali kepada Sang Pencipta. Dua setengah abad kemudian garis yang sama masih menjadi tulang punggung kota, dan sejak 2023 diakui sebagai Warisan Dunia.

Linimasa

Tujuh babak
sejarah Yogyakarta.

Disusun dari portal resmi Pemerintah Kota Yogyakarta, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dan UNESCO. Tanggal yang masih diperdebatkan ditulis apa adanya.

01 Abad ke-8 – ke-10

Mataram Kuno dan candi-candi

Jauh sebelum ada keraton, dataran subur di kaki Merapi sudah menjadi pusat kerajaan yang meninggalkan candi-candi terbesar di Jawa.

  1. 778 M

    Prasasti Kalasan

    Prasasti berbahasa Sanskerta ini mencatat pendirian bangunan suci untuk Dewi Tara pada masa Rakai Panangkaran. Candi Kalasan yang berdiri di timur kota hari ini dikaitkan dengan prasasti tersebut.

  2. Abad ke-8 – ke-9

    Situs Ratu Boko

    Di atas bukit di selatan Prambanan berdiri kompleks bergapura, berpendapa, dan berkolam. Fungsinya — istana, biara, atau benteng — masih menjadi bahan kajian para arkeolog.

  3. 856 M

    Candi Prambanan

    Prasasti Siwagrha yang berangka tahun ini umumnya dikaitkan dengan peresmian kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia, yang dibangun pada masa Rakai Pikatan.

  4. Abad ke-10

    Pusat kerajaan pindah ke timur

    Pada masa Mpu Sindok pusat pemerintahan berpindah ke Jawa Timur. Penyebabnya masih diperdebatkan — letusan Merapi, perebutan kekuasaan, dan perdagangan termasuk dugaan yang diajukan.

Candi Prambanan atau Candi Kalasan
Jejak Mataram Kuno di dataran Prambanan.
02 Akhir abad ke-16 – 1755

Alas Mentaok dan Mataram Islam

Sebuah hutan hadiah dari Sultan Pajang tumbuh menjadi kerajaan yang menguasai hampir seluruh Jawa.

  1. Akhir abad ke-16

    Hadiah Alas Mentaok

    Ki Ageng Pemanahan menerima Alas Mentaok dari Sultan Hadiwijaya dari Pajang sebagai ganjaran atas kemenangan melawan Arya Penangsang. Hutan itu dibuka menjadi permukiman bernama Mataram.

  2. Akhir abad ke-16

    Panembahan Senapati di Kotagede

    Putra Pemanahan, Panembahan Senapati, melepaskan Mataram dari Pajang dan menjadikan Kotagede pusat kerajaan. Tembok kota, pasar, masjid, dan makamnya masih bisa dijumpai sampai kini.

  3. 1613 – 1645

    Sultan Agung

    Mataram mencapai puncak kekuasaannya dan dua kali menyerang Batavia. Sultan Agung juga membangun kompleks makam raja-raja di perbukitan Imogiri.

  4. 1746

    Pangeran Mangkubumi mengangkat senjata

    Setelah istana pindah ke Surakarta dan pengaruh VOC makin kuat, Pangeran Mangkubumi — adik Pakubuwana II — memimpin perlawanan yang berlangsung hampir sepuluh tahun.

Masjid Gedhe Mataram atau lorong Kotagede
Kotagede, ibu kota pertama Mataram Islam.
03 1755 – 1756

Lahirnya Ngayogyakarta Hadiningrat

Sebuah perjanjian membelah Mataram menjadi dua, dan di antara Sungai Code dan Winongo dibangun keraton yang sampai hari ini masih dihuni.

  1. 13 Februari 1755

    Perjanjian Giyanti

    Mataram dibagi dua. Separuh wilayahnya diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I.

  2. 13 Maret 1755

    Hadeging Nagari

    Dari Pesanggrahan Ambarketawang, Sultan Hamengku Buwono I mengumumkan berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

  3. 7 Oktober 1756

    Hari jadi Kota Yogyakarta

    Sultan beserta keluarga dan abdi dalem pindah ke keraton yang baru selesai dibangun. Tanggal inilah yang diperingati sebagai hari jadi Kota Yogyakarta.

  4. 1756

    Tugu Golong Gilig

    Tugu berbentuk silinder berpuncak bulat didirikan di utara keraton, segaris dengan Panggung Krapyak di selatan — penanda sumbu yang menata kota.

Bangsal Keraton Yogyakarta
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, pusat kota sejak 1756.
04 1758 – 1830

Taman Sari, Inggris, dan Perang Jawa

Kesultanan yang baru berdiri membangun taman air yang megah, lalu diguncang serbuan Inggris dan perang terbesar yang pernah dihadapi Belanda di Jawa.

  1. ±1758 – 1765

    Taman Sari dibangun

    Kompleks kolam, lorong, dan pesanggrahan dibangun di barat keraton sebagai tempat peristirahatan dan pertahanan keluarga raja.

  2. Juni 1812

    Geger Sepehi

    Pasukan Inggris di bawah pemerintahan Thomas Stamford Raffles menyerbu keraton. Sultan Hamengku Buwono II diturunkan, dan banyak naskah serta pusaka keraton dibawa pergi.

  3. 17 Maret 1813

    Kadipaten Pakualaman

    Pangeran Notokusumo diangkat menjadi Paku Alam I dan memerintah wilayah sendiri. Sejak itu Yogyakarta memiliki dua istana: Keraton dan Pura Pakualaman.

  4. 1825 – 1830

    Perang Jawa

    Pangeran Diponegoro, putra Sultan Hamengku Buwono III, memimpin perlawanan dari Tegalrejo. Perang lima tahun ini menguras kas kolonial dan menelan korban sangat besar.

Umbul Pasiraman Taman Sari
Taman Sari, taman air peninggalan Sultan Hamengku Buwono I.
05 1867 – 1942

Kota pergerakan dan pendidikan

Gempa merobohkan tugu, rel kereta masuk kota, dan dari kampung-kampungnya lahir organisasi yang mengubah wajah Indonesia.

  1. 10 Juni 1867

    Gempa merobohkan tugu

    Gempa besar meruntuhkan Tugu Golong Gilig dan merusak banyak bangunan di kota. Pada 1889 pemerintah kolonial membangun penggantinya yang lebih ramping: Tugu Pal Putih.

  2. 1887

    Stasiun Tugu dibuka

    Jalur kereta api menghubungkan Yogyakarta dengan kota-kota lain di Jawa, dan kawasan di sekitar stasiun tumbuh menjadi pusat niaga.

  3. 18 November 1912

    Muhammadiyah berdiri

    K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Kauman, kampung di sisi barat Alun-Alun Utara.

  4. 3 Juli 1922

    Taman Siswa

    Ki Hadjar Dewantara mendirikan perguruan Taman Siswa — cikal bakal julukan Yogyakarta sebagai kota pendidikan.

Tugu Pal Putih
Tugu Pal Putih, pengganti Tugu Golong Gilig yang roboh pada 1867.
06 1945 – 1949

Ibu kota Republik

Pada tahun-tahun paling genting revolusi, Republik yang baru lahir memerintah dari Yogyakarta.

  1. 5 September 1945

    Amanat 5 September

    Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII menyatakan wilayah mereka bagian dari Republik Indonesia — dasar keistimewaan Yogyakarta hingga kini.

  2. 4 Januari 1946

    Ibu kota pindah ke Yogyakarta

    Situasi Jakarta yang tidak aman membuat pemerintahan Republik dipindahkan ke Yogyakarta, dengan Gedung Agung sebagai istana presiden.

  3. 19 Desember 1948

    Agresi Militer Belanda II

    Belanda menduduki Yogyakarta dan menawan Soekarno, Hatta, serta sejumlah menteri.

  4. 1 Maret 1949

    Serangan Umum

    Pasukan Republik merebut kota selama sekitar enam jam — cukup untuk membuktikan kepada dunia bahwa Republik masih ada.

  5. 29 Juni 1949

    Yogya Kembali

    Pasukan Belanda ditarik dari kota. Pada Desember tahun yang sama Universitas Gadjah Mada diresmikan, sebagian kuliahnya digelar di bangsal-bangsal keraton.

Monumen Serangan Umum 1 Maret
Monumen Serangan Umum 1 Maret di kawasan Titik Nol Kilometer.
07 1950 – sekarang

Daerah Istimewa

Satu-satunya provinsi yang dipimpin raja, kota yang bangkit dari gempa dan erupsi, dan sumbu kota yang kini diakui dunia.

  1. 1950

    Daerah Istimewa Yogyakarta

    Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1950 membentuk Daerah Istimewa Yogyakarta setingkat provinsi.

  2. 27 Mei 2006

    Gempa Yogyakarta

    Gempa berkekuatan sekitar 6,3 mengguncang Bantul dan sekitarnya, menewaskan lebih dari lima ribu jiwa dan merusak ratusan ribu rumah.

  3. Oktober – November 2010

    Erupsi Merapi

    Letusan terbesar Merapi dalam puluhan tahun memaksa ratusan ribu warga mengungsi. Lereng yang tertimbun kini menjadi jalur wisata lava tour.

  4. 31 Agustus 2012

    Undang-Undang Keistimewaan

    Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 mengukuhkan keistimewaan DIY, termasuk penetapan Sultan sebagai gubernur dan Paku Alam sebagai wakil gubernur.

  5. 2020

    Yogyakarta International Airport

    Bandara baru di Kulon Progo mengambil alih penerbangan dari Adisutjipto dan membuka pintu masuk baru ke Yogyakarta.

  6. 18 September 2023

    Sumbu Filosofi, Warisan Dunia

    UNESCO menetapkan Sumbu Filosofi Yogyakarta — garis Tugu, Keraton, dan Panggung Krapyak beserta tengaran bersejarahnya — sebagai Warisan Dunia.

Suasana Malioboro masa kini
Malioboro, jalan paling ramai di sumbu kota.

Setelah membaca, datangi

Lihat sendiri kotanya
lewat virtual tour.

Lihat semua destinasi