Di sekeliling kawasan Keraton Yogyakarta, dahulu berdiri sistem pertahanan yang dikenal sebagai Benteng Baluwarti. Benteng ini dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I dan diselesaikan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono II, sekitar akhir abad ke-18. Dindingnya mengelilingi kawasan inti keraton dan dilengkapi gerbang masuk yang disebut plengkung, serta empat bastion di setiap sudut yang kini lebih dikenal sebagai Pojok Benteng atau “Jokteng”.
Secara arsitektural, Pojok Benteng dirancang sebagai bagian dari sistem pertahanan kota kerajaan. Bentuknya menjorok keluar dari garis tembok utama sehingga memungkinkan penjagaan dari beberapa arah. Pada masa lalu, benteng ini memiliki tembok tebal, parit atau jagang di bagian luar, serta titik-titik pertahanan yang diperkuat dengan persenjataan. Dari keempat sudut aslinya, hanya tiga bastion yang masih bertahan hingga sekarang, yaitu Pojok Benteng Wetan, Kulon, dan Lor.
Salah satu peristiwa paling penting yang pernah terjadi di kawasan ini adalah Geger Sepehi pada Juni 1812, ketika pasukan Inggris menyerbu Keraton Yogyakarta. Dalam serangan tersebut, gudang mesiu di Pojok Benteng Timur Laut berhasil diledakkan, menyebabkan bagian benteng itu hancur. Peristiwa tersebut menjadi salah satu episode paling dramatis dalam sejarah Kesultanan Yogyakarta dan meninggalkan perubahan permanen pada bentuk sistem pertahanannya.
Seiring perkembangan kota, sebagian besar dinding benteng perlahan tertutup permukiman dan jalan. Parit yang dahulu mengelilinginya pun hampir seluruhnya menghilang. Namun beberapa bagian Pojok Benteng masih mempertahankan bentuk khasnya: tembok putih yang kokoh, sudut-sudut pertahanan, dan massa bangunan yang kontras dengan lalu lintas kota modern di sekelilingnya.
Kini, Pojok Benteng bukan lagi bagian dari pertahanan militer, tetapi tetap menjadi penanda penting lanskap sejarah Yogyakarta. Berdiri di antara jalan, rumah, dan aktivitas kota, sisa benteng ini seperti garis batas yang masih terlihat antara Yogyakarta masa kini dan kota kerajaan berabad-abad lalu. Di balik tembok putihnya tersimpan cerita tentang pertahanan, konflik, perubahan kota, dan perjalanan panjang Keraton Yogyakarta.